Pages

Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Permata Hati

kedua orang tua..berada dalam posisi ke 3 setelah Allah dan Muhammad. Hampir semua inspirasi kehidupan berasal dari mereka berdua. Mereka yang tiap hari ku doakan sebelum tidur. Maaf smp saat ini belum bisa membahagiakan kalian sebagai anak.. T_T
Bapak: Nama nya Marhadi, kelahiran 6 Juni 1960. seorang pekerja keras, dermawan, baik hati, mempunyai sifat kepedulian lingkungan dan sosial tinggi, sabar, sangat menyayangi anak2nya walaupun gak ditampakkan secara langsung. Terima kasih sudah membangun rumah yang begitu nyaman untuk istri dan anak2nya. terima kasih sudah menjadi bapak yang sangat peduli dengan anak2nya.
ibu: Nama nya Rahajoe.. namanya ada di nama tengahku..hahaha..mangkanya kalo mau macem2 jgn sebut2 nama rahayu yohh...contohe ae si sapi iku..zzz. Kelahiran Malang, 13 Januari 1965. seorang ibu yang sangat sangat sangat peduli dengan anaknya. bahkan smpai sebesar aku masih dianggap seorang anak yang tidak berdaya (haduu...) seorang istri yang sangat bertanggung jawab terhadap tugas2 nya. selalu manut apa sing dikatakan bapak. seorang ibu yang sangat memperhatikan kebutuhan anak2nya dan selalu gak tega dengan anak2nya. lah leg aku rabi piye ngene iki leg ibuku gak tego.. haissh..sudahlah...sekian :D

Foto Bersama Bapak Romi Satrio Wahono

Pas acara ini dapet kesempatan foto bersama bapak Romi Satrio Wahono...Lumayan..hahaha.. :D

Semacam Napak Tilas kemudian Nyangsang di Masjid Agung Surabaya :D

kerajinen ke stasiun kota baru,,,keretane jam 10, jm stgh 10 udah dateng, lupa sarapan pula. stasiun kota baru masih tetep kayak 4taon yang lalu, perubahan cuma sma tiketnya, dulu tiketnya terlihat "mbambesi", sekarang udah canggih. stasiun kota blimbing, tetep sama dengan cat ijonya. naek kreta ketemu mbak2 musyrifah uin, malah dikira semster 1..hahaha (awet nom). persawahan sebelum stasiun lawang juga tetep. tetep terlihat asri, sejuk indah pula. stasiun bangil, tetep kayak dulu, penumpang banyak yang turun disini. stasiun porong juga tetep, masih ada kreta yang karatan. dari skrg smp dulu gak pindah2. lumpur lapindo sekarang berubah, ada pembatas dari batunya sekarang trus ada pos2 kecilna gitu. stasiun sidoarjo tetep juga kayak dlu, msih sering berenti lama kretana kalo disini,,panas pula. stasiun. liat perusahaan comfeed sidoarjo, juga tetep sama baunya..xixixixi :D. liat ARHANUDSE juga sama.dulu sering jadi patokan kalo lagi ditanya orang. gak sempet liat perumahan mewah2 yang  tembusan ke pasar gedangan. padahal dulu sering lewat situ, entah jalan maupun sepeda motor an. PT. PAR tetep terlihat usang namun semakin banyak orderan sepertinya..xixi...perusahaan cetak yang gedhe sih...stasiun gedangan tetep memukau. banyak momen yang tertinggal disini. waktu nunggu kreta sama mirza dulu. sering banget dulu dicariin tmpt duduk sm mirza.hihi..sering pula liat bintang disini waktu lagi sumpek2. sering juga ngobrol sm "tiit" disini..xixixi. tempat menawan...jalan2 dari kos juga masih tetep kayak dulu, gak ada pelebaran, sering nglewati apalagi pas senin pagi sama sabtu. liat gang nya kos2an dulu. juga masih tetep sama. tempat dimana banyak pelajaran penting. juanda. jdi inget dulu malem2 sepedaan gak pake jaket sama mas bagus abis maen dari rungkut. gedung cito, dulu masih dibangun, sekarang terlihat megah banget. royal plasa, tetep aja masih gedhe segitu..hahaha...giant.. dulu kalo abis narayab maenny ke sini sm mbak nur. jalanan kecil deket fly over, jadi inget dulu diputer2in sama mas ayik. jalan2 yang mengasyikkan.. :D. gedugnnya JAWAPOS (graha pena kyknya..) tetep terlihat menawan. banyak anak grafika dulu kesitu. stasiun wonokromo. jadi inget pengabdian masyarakat sm temen2 UIN.. Masjid agung..sangat sangat sangat indah menawan...mboiss...wuihh banget..hahaha...kampus UNAIR sangat indah dengan danaunya..bikin betah..banyak ikannya juga..gedhe2 pula..jadi pengen bakar...danunya itu loh...keren..sejuk...special thx gawe sing ngancani,... :D

Sebuah Cahaya Dalam Kegelapan

cahaya itu penerang, cahaya itu indah, cahaya itu....macem2 deskripsi orang.Cahaya itu kasih sayang, kasih sayang ibu, bapak, adik, kakak, temen dan masih banyak lagi. dengan sangat gembira syukur Alhamdulillah aku memiliki semua itu. Terutama kasih sayang orang tua. Untuk ibuku, maaf beribu-ribu maaf karna selama ini telah banyak menyusahkan, mengkhawatirkan, dan sering bikin jengkel dengan ulah anak2mu ini. Terima kasih atas segala jerih payah dan kasih sayang yang engkau berikan kepada anak-anakmu. terima kasih sudah mendidik dan mengajari  kami dengan sabar untuk  menjadi anak yang sopan santun, terima kasih sudah memberi kami makan-makanan yang bergizi, terima kasih sudah menyekolahkan kami di sekolah-sekolah terbaik, terima kasih sudah mengkhawatirkan kami, terima kasih sudah merawat kami ketika sakit, terima kasih sudah menyiapkan sarapan bagi anak-anakmu ketika pagi, terima kasih sudah menyucikan pakaian-pakaian kami yang kotor, terima kasih atas nasehat2mu yang sangat berguna, terima kasih sudah menjadi ibu kami, terima kasih sudah menjadi istrinya bapak ku...xi3.
untuk bapakku..terima kasih sudah menjadi orang yang paling khawatir dengan anak2nya walaupun tak sedikitpun kau menampakkannya, namun aku tau kekhawatiranmu itu sangat..terima kasih atas segala kritik dan saran2nya, terimakasih atas gen yang kau berikan..terima kasih sudah menjadi orang tersabar dalam hidupku,terima kasih sudah sudah menjadi orang yang paling bijaksana dalam hidupku, terima kasih atas kasih sayangnya mulai dari aku kecil smp segede ini..dan terima kasih sudah menjadi suaminya ibuku ...haha
mungkin cuma ini saja yang bisa ku katakan. :p doaku selalu menyertai kalian ..terima kasih sudah menghadirkanku dalam doa2 kalian...terima kasih atas keluarga indah yang kalian berikan...semoga Allah selalu memberikan yang terbaik...amin3x..
semoga aku bisa membalas kebaikan kalian berdua..amin10000x...

Kehidupan dan Keluarga

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,



Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.

yours,

Mario


Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

” Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ” kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?”

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima”


Di surat yang lain,

“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,

“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……” Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.


Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario.

Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.


hanya bahan renungann,,yng aq kutip... dari sebuah kisah .... maaf jika kisahya di paparkan... d catatanqU


sumber : www.facebook.com/notes/surhaeni-neni/kehuidupan-keluarga/194173730624242

Orang tua otoriter

judul ini saya dapat dari link berikut ini:
http://lead.sabda.org/19/aug/2005/kepemimpinan_orang_tua_otoriter

banyak memang orang tua yang otoriter terhadap anaknya.Tidak memberikan kebebasan terhadap anak2nya. berikut isi dari artikel yang saya ambil:


Salah satu kriteria orang tua otoriter adalah seberapa banyak kita mengekang anak dan tidak membiarkan mereka memiliki ruang geraknya sendiri. Orang tua yang otoriter tidak mengijinkan anak mempunyai pendapat sendiri, memiliki minat yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang berbeda. Saya setuju dengan pendapat bahwa orang tua harus menjadi pemimpin anak-anaknya.

Namun ini tidak berarti orang tua dapat memaksakan seluruh kehendaknya. Anak memerlukan ruang untuk bergerak, agar ia terlatih untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri
.
Masalahnya sekarang, kapankah kita tahu bahwa kita telah memaksakan seluruh kehendak kita, padahal yang kita maksud adalah mendidik anak agar mereka mempunyai hidup yang baik kelak? Untuk membedakan mana yang otoriter dan mana yang tidak memang dibutuhkan kepekaan ekstra dari orang tua atas dirinya sendiri. Kalau kita dapat memikirkan apa yang dipikirkan anak dan merasakan apa yang mereka rasakan setiap kali kita berkomunikasi dengan mereka, kita akan memiliki kepekaan itu. Jadi, kalau misalnya anak selalu salah, apapun yang mereka lakukan, dan hal ini membuat mereka apatis, atau sebaliknya memberontak habis-habisan, ada kemungkinan kita telah bertindak otoriter.

Akibatnya bagi anak bila kita bersikap otoriter?

Anak akan bertumbuh menjadi orang yang bergantung pada orang lain.
Anak menjadi keras kepala dan sulit diatur. Ini akan terjadi pada anak yang lebih berani.
Dalam keadaan tertentu, kita memang tidak akan sempat lagi berdebat dengan anak karena mendesaknya waktu. Dalam keadaan demikian, kita perlu mengambil tindakan yang bersifat otoriter. Saya kira pemimpin manapun tentunya pernah melakukan tindakan dan keputusan sepihak tanpa persetujuan bawahannya, yaitu terutama dalam situasi darurat. Tetapi sedapat mungkin dalam kebanyakan keadaan, berikan pilihan-pilihan kepada mereka, sehingga anak relatif mempunyai kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri bersama dengan konsekuensinya.
Dapat dikatakan bahwa gaya mendidik yang otoriter kita perlukan lebih banyak pada usia-usia dini anak, dan hendaknya semakin demokratis ketika anak semakin dewasa. Seharusnya pada saat remaja, anak semakin memperoleh kebebasannya. Untuk itu, kita perlu menyelesaikan penanaman dasar moral dan kebiasaan yang baik sesaat sebelum anak memasuki usia remaja. Sehingga ketika anak remaja diberi kebebasan menentukan dirinya lebih banyak, mereka tidak mengambil tindakan yang kurang bertanggung-jawab.

Otoriter itu didominasi oleh pemaksaan-pemaksaan orang tua kepada anak, jadi lebih banyak bertujuan memuaskan keinginan, target, ambisi, bahkan hawa nafsu orangtua sendiri. Sebaiknya orang tua dalam melakukan tindakan mendisiplin ataupun berelasi dengan anak dengan dilandaskan kasih sayang, jadi lebih banyak memikirkan kebutuhan dan kemampuan anak. Dalam hal ini orang tua lebih baik bersikap demokratis dan memberi ruang kepada perbedaan anak dengan orang tua, dan memberi ruang juga bagi anak untuk bertanya dan mencari alasan mengapa suatu hal diijinkan dan hal lain tidak diijinkan.

protes percuma, ngomong kebenaran serasa percuma juga, kalau kita coba dengan sodorkan artikel ini, orang tua ngeles dg berbagai alasan.bahkan bisa saja berkata hal-hal yang tidak kita inginkan. memang benar kalau orang tua kita sangat sayang kepada kita, memberikan kita tempat tinggal, makan, pakaian, sekolah, dsb..tapi menurut saya salah dalam caranya. lantas..sebagai anak apa yang harus kita lakukan?? [tetap saja berakhir pada sebuah pertanyaan yang belum menemukan jawaban....]